Jadi guru besar haruskah linear?

Pertanyaan yang sering ditemui dikalangan akademisi. Haruskah pengajuan jabatan fungsional linear?

Asumsi mengapa Dikti mengaruskan linearitas yaitu bahwa dengan adanya linearitas mencerminkan kedalaman pengetahuan seseorang sehingga yang bersangkutan dengan guru besarnya dapat berkontribusi secara bertanggung jawab. [Sumber: Kompetensi.info]

Alasan dari asumsi itu tidak sepenuhnya salah. Tapi tentu asumsi tersebut akan menjadi problematis. Kenapa? Tentu ada hal yang membuat itu problematis. Dan mengapa Dikti mengharuskan sistem Linearitas pada jabatan fungsional. Dikutip dari, pendidikpembebas

  1. Bagi PT, berpengaruh terhadap nilai akreditasi Ban-PTnya yaitu di penilain Standar ke 4 Sumber Daya Manusia, di situ akan dinilai kesesuaian keahlian dosen (baik dosen tetap, dosen LB atau dosen honor) apa sesuai dengan bidang penugasannya dan matakuliah yang diajarnya apa sesuai dengan gelar akademiknya. Akreditasi merupakan merek mutu dari PT, semakin bagus peringkat akreditasi semakin banyak calonmahasiswa yang datang mendaftar, dana masuk lancar membuat PT (terutama PTS) bisa lancar beroperasi, dan akreditasi yang bagus juga akan turut menaikkan peringkat PT di kancah dunia pendidikan.
  2. Bagi sang dosen, selain berpengaruh ke kesempatan melamar/pindah homebase/mengajar ke PT yang dia minati, juga berpengaruh ke Kum dari nilai ijazah yang dia peroleh, kalo linear kum ijazah ( S3 =200, S2 =150, S1 =100) sementara bagi yang tak linear (kum S3 =15, S2= 10, S1= 5), dan bagi dosen yang mengajukan kenaikan jabatan akademik ke GB, seandainya berhasil, gelar jafung GB yang diperoleh akanmencantumkan bidang penugasan sesuai dengan bidang ilmu (gelar akademik terakhirnya). Contohnya bagi dosen yang bergelar S3 manajemen sedangkan S2nya lulusan akuntansi, maka dia hanya bisa peroleh gelar Profesor dengan bidang penugasan Manajemen.

Mungkin banyak juga spesikulasi yang menyatakan bahwa menjadi Guru Besar perlu adanya sistem linearitas. Namun, semua itu dapat ditepis dengan pernyataan Dikti juga.

Maka berdasarkan sumber yang ada DISINI 

Dari gambar diatas, bisa saja mengajukan jabatan fungsional sebagai Guru Besar.

  1. Jika semua bidang ilmu sebelum S3 dan pendidikan sesuai dengan karya ilmiah dan bidang ilmu penugasan [ Poin 1 ]
  2. Jika bidang ilmu sebelum S3, karya ilmiah, dan bidang ilmu penugasan serumpun dengan bidang S3. [ Poin 2 ]
  3. Jika bidang ilmu sebelum S3 tidak sesuai dengan pendidikan S3, tetapi pendidikan S3, karya ilmiah dan bidang ilmu penugasan sesuai. [ Poin 5 ]

Nah, asal dari ketiga poin itu memenuhi kriteria, untuk mengajukan menjadi guru besar tidak akan menjadi problem.

Semoga sharing ini bermanfaat yah ^^